penemuan penisilin

saat kecerobohan alexander fleming menjadi keberuntungan medis terbesar

penemuan penisilin
I

Pernahkah kita meninggalkan cangkir kopi berhari-hari di meja sampai berjamur? Saat melihatnya, kita pasti merasa jijik dan buru-buru membuangnya ke tempat cuci piring. Tapi coba bayangkan sejenak. Bagaimana kalau kemalasan membersihkan meja itu justru menjadi kunci untuk menyelamatkan ratusan juta nyawa manusia? Terdengar sangat absurd, bukan? Mari kita bicarakan tentang keajaiban di balik sebuah kesalahan. Dalam psikologi manusia, kita secara alami didorong untuk membenci ketidakteraturan. Kita menyukai rencana yang rapi dan hasil yang terprediksi. Namun, dalam dunia sains, terkadang sebuah ketidakteraturan dan kecerobohan adalah tiket emas menuju penemuan paling revolusioner.

II

Mari kita mundur sedikit ke tahun 1928. Waktu itu, dunia adalah tempat yang sangat menakutkan untuk ditinggali. Luka gores kecil di lutut saat bermain di taman, atau infeksi gigi yang sepele, bisa berakhir dengan kematian yang menyakitkan. Kita belum punya tameng pelindung untuk melawan bakteri mematikan. Di tengah bayang-bayang keputusasaan medis inilah, hidup seorang ilmuwan Skotlandia bernama Alexander Fleming. Fleming adalah seorang peneliti yang sangat brilian. Tapi, dia punya satu reputasi buruk di antara rekan-rekannya. Dia sangat, sangat berantakan. Meja kerjanya di St. Mary's Hospital, London, adalah definisi kekacauan sejati. Tumpukan cawan petri berisi biakan bakteri Staphylococcus dibiarkan menumpuk begitu saja di sudut ruangan. Bagi orang awam, ini adalah kecerobohan tingkat tinggi. Namun, sejarah rupanya memiliki selera humor yang sangat aneh.

III

Pada suatu hari di akhir musim panas, Fleming memutuskan untuk pergi berlibur bersama keluarganya. Tentu saja, dengan gaya khasnya, dia tidak membersihkan cawan-cawan petri di mejanya sebelum pergi. Dia membiarkannya teronggok begitu saja. Saat dia kembali dari liburan beberapa minggu kemudian, dia mendapati apa yang ditakutkan setiap ilmuwan: eksperimennya gagal total. Salah satu cawan petrinya telah terkontaminasi oleh jamur liar yang kemungkinan terbang masuk dari jendela atau ruangan lain. Kalau kita yang berada di posisi Fleming, kita mungkin akan mengumpat, membuang cawan itu ke tong sampah, dan mulai meracik ulang dari nol. Tapi di sinilah letak perbedaannya. Mata Fleming menangkap sebuah anomali visual. Di sekitar gumpalan jamur hijau kebiruan tersebut, ada sebuah "zona mati". Bakteri mematikan yang seharusnya tumbuh subur memenuhi cawan, tiba-tiba lenyap tak berbekas di dekat jamur itu. Mengapa koloni bakteri pembunuh ini seolah mundur ketakutan dari sebuah jamur nyasar? Apa sebenarnya yang diam-diam terjadi di dalam cawan kecil itu?

IV

Inilah momen kebenaran yang mengubah arah sejarah manusia. Jamur nyasar tersebut rupanya dari jenis Penicillium notatum. Jamur ini secara alami mengeluarkan semacam "jus" rahasia untuk mempertahankan wilayahnya dari serangan bakteri. Cairan pertahanan inilah yang kemudian kita kenal luas sebagai penisilin. Mari kita bedah sedikit sains murninya (hard science). Bagaimana cara jus jamur ini membunuh bakteri? Penisilin bekerja seperti pembunuh bayaran tingkat sel yang sangat presisi. Dia memiliki struktur molekul unik yang disebut cincin beta-laktam. Cincin kimia ini bertugas menyabotase enzim yang digunakan bakteri untuk menenun dinding sel mereka. Akibatnya sangat fatal bagi sang bakteri. Saat mereka mencoba tumbuh dan membelah diri, dinding pelindungnya menjadi sangat rapuh. Bakteri-bakteri itu akhirnya meletus dan hancur berantakan, persis seperti balon yang ditusuk jarum tajam. Sangat menakjubkan melihat bagaimana alam bekerja. Tapi, ada satu hal penting yang sering disalahpahami orang. Kita sering mereduksi momen ini sekadar sebagai "keberuntungan besar". Padahal, bapak psikologi dan filsafat sains sering mengingatkan kita tentang konsep serendipity. Keberuntungan hanya akan bermakna jika ia jatuh ke pangkuan pikiran yang sudah siap (the prepared mind). Kecerobohan memang yang mengundang jamur itu masuk. Tetapi, kemampuan berpikir kritis dan rasa ingin tahu Fleming-lah yang mengubah cawan berjamur itu menjadi terobosan medis terbesar abad ke-20.

V

Penemuan penisilin pada akhirnya melahirkan era antibiotik. Ia mengubah wajah peradaban kita selamanya. Infeksi mematikan dari parit-parit Perang Dunia II hingga di atas meja operasi rumah sakit modern, tiba-tiba bisa disembuhkan dengan mudah. Ratusan juta nyawa telah terselamatkan hanya karena satu meja kerja yang berantakan. Lalu, apa yang bisa kita bawa pulang dari cerita luar biasa ini? Terkadang, kita terlalu keras menghakimi diri sendiri saat melakukan kesalahan, atau saat hidup kita terasa berantakan tak sesuai rencana. Tentu saja, cerita ini bukan pembenaran bagi kita untuk berhenti mencuci piring atau membiarkan rumah menjadi sarang penyakit. Namun, kisah Fleming mengajarkan kita empati terhadap ketidaksempurnaan kita sendiri. Kegagalan, anomali, dan kecerobohan bukanlah akhir dari segalanya. Jika kita bersedia berhenti sejenak, menarik napas panjang, dan mengamati "kegagalan" kita dengan kacamata yang kritis dan pikiran yang terbuka, mungkin kita akan menemukan makna tersembunyi di baliknya. Siapa tahu, kekacauan yang teman-teman hadapi hari ini adalah bibit keajaiban untuk masa depan.